Mendidik Anak


Mendidik dan Mengasuh Anak adalah Seni

Setelah beberapa lama berkutat dengan masalah pekerjaan yang menguras energi, waktu dan pikiran…akhirnya kemarin kusempatkan membaca e-newsletter dari Sekolah Orangtua. Ada satu artikel yang menurutku cukup menarik berjudul “Super Family #8 – Apa Saja Yang Perlu Dipahami Dari Seorang Anak?”.

Bukan judulnya yang menarik, tapi salah satu kalimat didalamnya “Mendidik dan mengasuh seorang anak adalah suatu seni. Kita perlu memahami mereka dan menggunakan pemahaman itu untuk mengarahkan tindakan mereka.”

Sangat menarik, karena membuatku teringat pengalaman pribadiku mendidik Arya anakku. Beberapa bulan lalu saat aku menggunakan metode “Kursi Tenang”, aku cukup berhasil untuk menenangkan emosinya yang meledak – ledak. Tapi saat ini metode itu tidak dapat terus menerus digunakan, karena selain anaknya jadi kebal ( karena tahu, bila dia minta maaf dan bersikap baik, maka masalahnya/hukumannya selesai ), juga Arya malah membanting kursinya untuk menarik perhatianku atau orang-orang. Selain itu, tidak setiap kesalahan harus diberi hukuman yang sama bukan?

Semakin bertambahnya umur anak, aku merasakan komunikasiku yang lebih meningkat. Aku lebih banyak menggunakan cara persuasif – mengajaknya bicara dan memberinya pengertian. Sering kali berhasil. Namun tak jarang aku pun harus mengeluarkan jurus terakhir bila cara persuasif tidak mempan…hehehe.. jurus “tangan besi”. Artinya bukan menggunakan pukulan atau umpatan/cacian kepada anakku,lho… tapi ketegasan untuk mengatakan boleh dan tidak boleh dia melakukan sesuatu.

Artinya, mendidik & mengasuh anak memang membutuhkan kreativitas, ide dan explorasi yang lebih dalam mengenai anak kita.

Buatku sendiri, saat bersama anakku jadi momen untuk kembali mensyukuri waktu menikmati kegembiraan masa kecil. Karena aku bisa nonton tv atau dvd kartun sambil tertawa bersama-sama…main silat-silatan ( hehe…walaupun selalu menang, kadang2 perlu mengalah untuk menyenangkan anakku )… yang bisa menginspirasiku untuk mengajaknya belajar dan melatihnya menjadi lebih mandiri.

Sebagai contoh, aku mendorong anakku rajin belajar membaca dengan mengatakan bahwa pahlawan kesayangannya ULTRAMAN bisa/pintar membaca..dan cuma Monster saja yang tidak bisa membaca….Hehehe…kadang jurus itu ampuh juga tuh! Padahal aku sendiri belum pernah melihat Ultraman membaca satu tulisan pun di dalam filmnya…hahaha…

Jadi, bersyukurlah kita jadi orang tua, karena diberi kesempatan untuk melatih kreativitas, mencari ide – ide baru untuk mendidik & mengasuh anak – anak kita. Caiyo!

Sumber :
http://sanggar-sakka.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: